Minggu, 07 Februari 2016

Ibu : Sudahkah menjadi Guru dan Sekolah Pertama?

re-post~ 
Tulisan ini merupakan tulisan pertama saya di 2016 yang dimuat dibeberapa media online seperti visimuslim, islampos, dakwahmedia, dan media terkait lainnya Januari lalu. Saya posting kembali di blog pribadi saya sebagai dokumentasi pribadi. Semoga bermanfaat. :)



            Menjadi seorang Ibu merupakan amanah mulia yang disandangkan pada pundak perempuan. Sebagai sosok orang tua, tentunya ibu menginginkan anak-anaknya terlahir dan tumbuh menjadi generasi yang dapat membanggakan orang tuanya. Islam sebagai agama yang sempurna sangat menjunjung tinggi kemuliaan perempuan. Islam menetapkan dua peran penting bagi perempuan, yakni sebagai ibu dan pengelola rumah. Ibu merupakan pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu sebagai pencetak generasi unggul hendaknya senantiasa menjadi sekolah dan pendidik terbaik bagi anak-anaknya. Namun saat ini, para ibu lebih disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka diluar rumah demi memenuhi materi.
            Menurut Biro Pusat Statistik (BPS) dan hasil survey yang dilakukan Departemen Tenaga Kerja menyatakan 57% pekerja perempuan dipekerjakan di sektor informal. Berdasarkan data yang sama dari BPS dan Sakernas, penghasilan rata-rata perempuan bekerja di sektor di luar agrikultur, hanya sekitar 80%  dari penghasilan pria. (ilo.org, 12/12/2015)
            Hal demikian didukung dengan penerapan sistem yang salah, menjadikan perempuan yang berada dalam sistem demokrasi kapitalisme saat ini lebih terkondisikan untuk lebih banyak berada di ranah publik dibandingkan sibuk di dalam rumah mengurusi anak-anaknya. Sehingga tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban, mereka tidak terdidik dengan baik, moral mereka jauh dari karakter akhlaqul karimah karena miskinnya bimbingan keluarga, terutama ibu sebagai peletak dasar jiwa kepemimpinan pada anak akibat dari ibu yang lebih sibuk diluar rumah.
            Sebanyak 46% remaja berusia 15-19 tahun disinyalir sudah pernah berhubungan seksual, bahkan data Sensus Nasional menunjukkan bahwa 48-51 persen perempuan hamil (akibat seks bebas) adalah remaja (bkkbn.go.id, 12/12/2015). Dan dari sumber lain dinyatakan lebih dari 500 video porno sudah dibuat dan diedarkan di Indonesia dan sebanyak 90% pembuat video porno itu berasal dari kalangan anak muda, dari SMP sampai mahasiswa. Selanjutnya, dalam kasus NAPZA, 20% dari 4 juta pengguna narkoba di seluruh Indonesia adalah remaja. Dari penelitian yang pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan bahwa 50 – 60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Jadi total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. Di antara jumlah itu, 48% di antaranya adalah pecandu dan sisanya sekadar coba-coba dan pemakai (radioaustralia.net 12/12/2015).
            Mendidik anak tidak dapat dilakukan paruh waktu atau sambilan semata. Hal itu membutuhkan curahan waktu, pikiran, tenaga, usaha keras dan kondisi yang menunjang. Ibnul Qayyim mengatakan : “Sebagian ulama menyatakan bahwa Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban setiap orang tua tentang anaknya di hari kiamat, sebelum si anak sendiri juga akan meminta pertanggung jawaban orang tuanya. Siapa saja yang mengabaikan pengajaran pada anaknya mengenai hal-hal yang berguna baginya, lalu membiarkan begitu saja maka ia telah berbuat kesalahan besar” (Kebaikan yang berguna bagi anak yang dimaksud adalah mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah agama).
            Dengan demikian, orang tua terutama ibu sudah seharusnya memfokuskan diri pada fungsi utamanya, yakni sebagai ibu dan pengatur rumah. Karena tugas mulia tersebut merupakan pondasi utama demi terbentuknya generasi yang unggul, yang akan memimpin peradaban manusia ke arah yang lebih baik. Hal ini membutuhkan adanya dukungan sistem yang mengkondisikan perempuan untuk memenuhi kewajibannya tersebut, yakni islam.  Karena islam sangat menjunjung tinggi kehormatan perempuan, dan hanya sistem islam yang mampu mendukung perempuan untuk menjalankan fungsinya sebagai ummu wa robbatul bayt. Sehingga, tidak ada lagi solusi lain selain diterapkannya islam dalam bingkai khilafah, yang dengannya akan terbentuk pula lah generasi mulia yang unggul untuk kebaikan di dunia maupun akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Minggu, 20 Desember 2015

Zona Nyaman yang Melenakan

   Dalam kehidupan ini untuk melakukan dan memutuskan sesuatu manusia tidak pernah terlepas dari memandang baik dan buruknya suatu  itu dari pandangannya sendiri, segala yang ia lakukan akan dikatakan baik ketika hal itu memberikan manfaat pada dirinya dan akan dikatakan buruk bila merugikan dirinya sendiri. Hal itu hanya dinilai berdasarkan pandangannya semata sebagai manusia. Dan itulah yang membuat tidak sedikit orang enggan untuk keluar dari ‘Zona Nyaman’nya.
    Begitupun yang terjadi saat ini, orang-orang pada umumnya tau bahkan faham mengenai pentingnya penerapan Islam, faham akan kewajibannya sebagai muslim untuk mentaati Tuhannya, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Namun, hawa nafsu lebih menguasai dirinya. Sehingga, tidak sedikit yang berdiam diri di zona nyaman, padahal ia tahu bahwa dirinya salah. Dan itu pula yang akhirnya membuat orang-orang sulit sekali “Move On” dari zona nyamannya tersebut.
  Hakikatnya seorang muslim memandang baik buruk segala sesuatu tentunya harus berdasarkan aqidahnya (read : islam), harus berdasarkan hukum syara’. Dengan memahami hal itu tentunya ia takkan merasa sulit untuk keluar dari zona nyaman, ia tak akan merasa berat untuk ‘hijrah’ pada kebaikan.
   Seseorang yang berjilbab ketika ia merasa jilbabnya nyaman dan friendly ia gunakan dalam beraktivitas, maka akan ia gunakan. Namun, ketika dirinya merasa repot dan merasa jilbabnya menghalangi aktivitas yang ia lakukan, maka ditanggalkanlah jilbabnya dan diganti dengan sekedar baju potongan atau celana yang dianggapnya lebih simple dan mendukung untuk aktivitasnya. Begitulah yang terjadi pada orang-orang yang memandang baik buruk berdasarkan pandangannya semata sebagai manusia, bukan memandang baik buruk sebagai seorang hamba. Karena, bagi yang memposisikan dirinya sebagai seorang hamba maka ia akan menggunakan jilbabnya disetiap aktivitas.
    Atau contoh lain, bagi orang yang terjebak aktivitas pacaran. Ketika ia merasa pacaran memberikan kebahagiaan untuk dirinya, barang tentu ia tetap saja pada aktivitas tersebut, enggan untuk meninggalkan perbuatan tersebut, sekalipun ia tahu bahwa itu adalah perbuatan yang dilarang dalam islam. Dan ia akan meninggalkan aktivitas pacaran ketika ia merasa pacaran sudah merugikan dirinya, menyengsarakan dirinya karena disakiti oleh dia yang menjadi pasangannya, akan tetapi saat ia sudah merasa baik, ia kembali pada aktivitas yang sama seolah lupa dengan sakit hatinya. Itu karena ia memandang baik buruk itu menurut dirinya. Berbeda dengan yang memandang baik buruk berdasarkan hukum syara’, ia meninggalkan aktivitas pacaran bukan karena sakit hati saja, tapi murni karena perintah Allah SWT. Dengan demikian, tidak akan pernah ada keinginannya untuk kembali pada aktivitas haram tersebut, sekalipun banyak godaan yang mendekatinya, karena ia sadar bahwa Allah mengharamkannya.
   
     Demikian pula pada orang-orang yang menyatakan dirinya iri melihat temannya yang lain selalu berada dalam kebaikan, ingin seperti mereka yang senantiasa dalam ketaatan. Namun, untuk bergerak saja masih sulit dan memilah-milah mana aktivitas yang sesuai dengan zona nyamannya dan mana yang tidak sesuai dengan dirinya. Padahal, Allah SWT berfirman :
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah : 216)
    Kecenderungan manusia pada kebaikan membuat dirinya selalu terdorong melakukan suatu kebaikan. Banyak yang ingin berubah untuk lebih baik adalah sebuah bukti kecenderungan tersebut. Namun, tidak sedikit manusia yang ‘malas’ enggan berjuang lebih keras untuk menuju kebaikan yang hendak ia tuju. Sehingga membuat dirinya kalah oleh hawa nafsu yang menguasai dirinya, kalah dengan cemoohan orang dan kalah dengan godaan duniawi lainnya. Adakah yang menyadari hal ini? Jawabannya, “Banyak”. Akan tetapi, lagi-lagi orang banyak yang enggan meninggalkan zona nyamannya. Takut kehilangan kebahagiaan hingar bingar dunia, takut tidak bisa melakukan hal-hal yang sudah menjadi hobinya. Alhasil, niat sekedar niat. Selalu mencari alasan bahwa perubahan itu tidak bisa 100% langsung. Iya, memang. Tapi terus melakukan secara konsisten pun dibutuhkan. Berani keluar dari zona nyaman pun harus dilakukan. Karena perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya pergerakan.
Allah SWT berfirman :
“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (TQS. Ar-Ra’d : 11)
   So, yang harus segera dilakukan adalah ‘keluarlah dari zona nyaman yang melenakan’. Karena bila tidak pernah melakukan itu,  kebaikan pun tidak akan pernah mendekat. Sadarilah, bahwa dunia ini hanyalah ‘fasilitas’ ibadah, bukan sebagai ‘tujuan’. Karena, kehidupan kekal kita adalah di akhirat nanti. Amal yang dilakukan di dunia lah yang menentukan surga atau neraka yang akan menjadi tempat kembali kelak. Bergeraklah menuju ketaatan, lawanlah segala godaan, sebagai bukti keimanan.
Wallahu A’lam Bish- Shawab!


Jumat, 23 Oktober 2015

Kapan???

Banyak orang lama tak jumpa tiba-tiba bertemu di suatu tempat, biasa kalo lama gak ketemu ya nanyanya kabar dkk. Tapi yang selalu bikin aku heran dan bosan kalo ditanya "Temenmu udah ada buat pendamping wisuda, kapan dong nyusul?"
Rasanya ingin jawab gini (sambil nyodorin cermin) "Coba nanyanya sambil ngaca?"
Sebetulnya aku sih santai aja temen2ku udah pada nikah ya, alhamdulillah waktu mereka sudah sampai, aku ya masih banyak yang harus dibenahi dan dipersiapkan berarti, karena aku juga banyak belajar dr yang sudah2, ternyata ada saja amanah yang terabaikan, apalagi kalo udah urusan dakwah yang terabaikannya, hah makin pikir panjang gak gegabah cari calon, bukan mencari alasan, tapi itu sebuah pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk menikah, benar gak calon kita itu bisa mendukung dakwah kita, benar gak si dia itu bisa menguatkan dakwah kita? Jangan sampe nyesel di kemudian hari, atau malah kejadian kita nya yang kebawa lalai dan gak ngerasa salah, itu parah. Na'udzubillah...
Intinya pemirsa "Aku udah gak peduli apa kata orang, selama aku gak melanggar aturanNya, selama aku terus memperbaiki diri dalam ketaatan pasti Allah ngasih yang seimbang, udah itu aja."
Gak usah takut gak dapet jodoh da semua juga udah ada bagiannya masing2, tinggal ikhtiar kita nya aja dibenahi, di maksimalkan kalo emang udah pengen2 banget, trus ngaca diri udah pantes belum, itu.
Ngapain lho gusar liat orang nikah toh kalo belum waktunya mah tetep aja di paksa2 juga gak akan kejadian, semua orang punya jatah waktu masing2, ibarat kita hidup di dunia gak semuanya memiliki jatah usia yang sama toh? Ya, begitupun menikah.
Jadi intinya nikah itu bukan masalah siapa duluan, tapi pernikahan siapa yang lebih barokah, manfaat untuk dakwah. Bukan berarti yang duluan gak barokah ya, cuma jangan sampe karena panas liat orang udah nikah malah jadi memaksakan diri padahal belum mampu pada akhirnya malah kelabakan ngurus ini itu sampe gak ada waktu untuk dakwah, jangan sampe.
Jadi cari calon itu yang bisa melejitkan potensi dakwah kita, yang ngajak kita memprioritaskan dakwah menjadi poros kehidupan, udah gitu mah insyaAllah tanggungjawabnya pada keluarga juga mantep karena dia faham kalo keluarga itu lembaga dakwah pertama. Dan pelayanannya pada ummat pun senantiasa di prioritaskan. Indah bukan? Ya, jadi kalem aja, gak perlu riweuh, dibawa santai aja, tapi tetep diusahakan, jangan dilupakan, karena itu juga salah satu sunnahnya Rasulullah, salah satu jalan untuk memperluas medan dakwah, sehingga dakwah islam semakin luas, banyak ummat yang sadar akan pentingnya islam dan Khilafah yang di rindukan pun akan terwujud. Barakallahu fiikum... :')

Rabu, 12 Agustus 2015

2016 : Membangun Asa Selepas Luka

Kembali ku berkaca pada hati-hati yang pernah mengalami hal serupa denganku. Bukan hanya dia tapi juga mereka. Ternyata bukan hatiku saja yang pernah mengalami kerapuhan seperti ini, bahkan bisa jadi justru yang mereka alami lebih dari pada aku. Padahal tak begitu banyak luka yang menyayat hati ini tapi dalamnya luka itu membuat lukapun tak kunjung mengering sampai detik ini.

Terkadang rasa lelah menyelimuti hati ini. "Kapan kau akan tersenyum manis kembali wahai diri? Kau tak bisa terus menerus begini!  Sudah banyak hal yang kau lewati akibat sayatan luka ini." Gumamku dalam hati kala berkaca pada cermin yang sudah mulai berdebu itu.

Bukan, bukan ku tak ingin, bukan juga aku memyesali diri atas apa yang sudah terjadi, aku hanya takut, aku takut terluka lagi. Bahkan aku tau aku bisa, dan ku tahu juga banyak dari mereka yang serupa seperti bisa bangkit lagi dikemudian hari, tapi hal itu bukan berarti tanpa kerja keras, bukan berarti tanpa pengorbanan, pasti banyak alasan yang bisa membuat mereka kemudian bangkit.

Sekali lagi, aku tahu, aku pun bisa. Tapi aku hanya butuh waktu, aku butuh waktu untuk bisa memulai lagi lembaran baru itu tanpa rasa takut. Jangan pernah memaksa aku tuk membuka diri saat ini juga, biarkan dulu aku menyesuaikan diriku untuk bisa melupakan segala kejadian itu dengan fokuskan diriku pada studiku. Dan ku berjanji pada kalian pintu itu pasti akan kembali ku buka, aku akan membuka pintu itu setelah semua hampir selesai. Di Januari nanti, ya nanti semua akan kumulai lagi, dengan basmallah penuh penyerahan diri pada Sang Illahi Rabbii, tanpa perlu lagi ku mengusik dan membuka luka lama yang pernah terjadi.

Selasa, 17 Maret 2015

Mahasiswa : Kemana Arah Gerakmu?

#re-post
=======================================================================
Ada rasa bahagia ketika melihat ternyata masih ada mahasiswa yang peka terhadap kondisi masyarakat saat ini. Ada rasa istimewa ternyata masih ada mahasiswa yang ke'Maha'annya masih melekat dalam diri mahasiswa masa kini.
Namun, sayangnya masih ada yang perlu dibenahi. Arah perjuangannya sayang. Arah perjuangannya masih bersifat parsial, pragmatis dan sesaat saja.
Saudaraku, di satu sisi kami bangga masih ada pemuda yang peka terhadap permasalahan bangsa. Tapi, di sisi yang lain, kami sedih karena masih saja kau nafikkan akar masalah dari semua permasalahan ini.
Masalah kita bukan hanya harga-harga yang menjulang tinggi, bukan hanya kebijakan-kebijakan yang tak manusiawi, juga bukan hanya pada SDA yang di swastanisasi. Melainkan ada masalah yang sangat jauh lebih besar dari semua ini, yakni IDEOLOGI.
Segala permasalahan yang muncul tak bisa dielakkan lagi dari permasalahan ideologi ini, karena segala hal yang terjadi adalah terletak pada kekeliruan penerapan ideologi yang tidak manusiawi. Yakni, Ideologi KAPITALISME.
Kapitalisme dengan ide sekulerismenya melahirkan segala kebijakan yang sungguh mengabaikan segala sisi manusia, materi menjadi standarnya, halal-haram tak lagi diperdulikan asalkan mendapat keuntungan sebesar-besarnya. Tak peduli berjatuhan korban, karena HAM hanya untuk yang ber-uang saja.
Dari sini kita bisa lihat, bahwa solusi yang harusnya dicari bukan lagi solusi tambal sulam di sistem yang sama melainkan adalah sudah ke arah solusi yang hakiki, yakni ISLAM.
Islam sebagai ideologi yang mampu menyelesaikan segala permasalahan yang ada, mampu menjadikan masyarakat sejahtera, tidak hanya menyelesaikan masalah harga-harga, tapi juga termasuk masalah SDA yang harusnya di kelola negara untuk kesejahteraan rakyatnya secara cuma-cuma. Bukannya malah diserahkan pada swasta dan dinikmati si kaya raya saja.
Ini mestinya yang disadari mahasiswa, mereka sebagai kaum Intelektual Muda yang akan memimpin dunia setelah para pendahulunya tiada sudah seharusnya lebih peka, menggunakan akal sehat dan logika terhadap permasalahan ummat. Bukan melulu mencari cara gimana cumlaude dalam IPK.
Ayo, mahasiswa! Bergerak segera. Rapatkan barisannya, bersama-sama berjuang dengan segenap tenaga agar pertolongan Allah datang dengan segera.

Sehingga, kehidupan dibawah naungan Islam yang di rindukan akan terwujud pula. Karna ISLAM-lah satu-satunya IDEOLOGI yang memanusiakan manusia!

Wallohu A'lam Bish-Shawab!

Minggu, 15 Maret 2015

Meniti Hati tuk Tetap Menanti

Berada dalam masa yang cukup lama untuk hari yang dinantikan. Terkadang mata ingin terpejam, dan berharap kemudian dapati hari telah berganti menjadi hari yang dinanti itu.

Tapi mencapai mimpi tetaplah harus melewati hari demi hari dan menikmati setiap sisi indahnya masa ini.

Rindu yang membuncah kini masih tetap harus tersimpan rapat dalam hati. Adapun yang dinanti, semoga tetap pantas untuk dinanti.

Jeritan hati bukan rasa yang menjadi ilusi, karena manusiawi kami pun bisa merasakan lelahnya menanti.

Tapi, tak sampai disini. Karena kami percaya, pekatnya kabut pagi kan segera berganti seiring dengan datangnya mentari yang menyinari.

Begitupun kami yang berada dalam penantian ini, kan segera dapati hari yang kami nanti bersama yang dinanti.

Suatu hari, bulir embun di pagi hari kan terasa sangat lebih indah, gelayut manjanya diujung dedaunan menjadi pemandangan yang selalu dirindukan kala pagi mulai berganti menjadi siang hari.

Juga masa penantian ini, kan menjadi kenangan indah kala hari mulai berganti dan tak lagi menjalani hari di masa seperti ini.

Dinginnya udara kesendirian yang menyusupi relung hati kami, kan berubah menjadi hangatnya rasa dalam kebersamaan.

Erat genggaman tangannya menjadi energi tuk tetap disini, bersama dalam rumah kami, mencari sebuah ketentraman yang telah lama dicari.

Mengejar mimpi yang telah lama dinanti.

Rabbii... Teguhkanlah hati kami.

Tuk tetap disini, memperbaiki diri, memantaskan diri untuk yang dinanti.

Hingga suatu hari kami kan bersama mengarungi ganasnya badai di kehidupan ini,

Saling memberi arti dan saling memahami masing-masing hati,

Sehingga hal itu menjadi bukti bahwa kami sudah berada dalam satu hati yang tak lagi sendiri,

Ada dia yang menemani. 

Sabtu, 14 Maret 2015

Ketika Mahasiswa Kehilangan Identitas sebagai “Kaum Intelektual”

===============================================================
#re-post | sebelumnya Februari lalu tulisan ini sudah dimuat di media online islampos.com pada kolom mahasiswa, tapi kini saya akan mempublikasi ulang di blog pribadi saya ini. Sekaligus untuk dokumentasi pribadi. | Semoga bermanfaat.
===============================================================

Suatu perubahan yang dihasilkan dari potensi intelektual yang tinggi akan menciptakan sebuah perubahan besar yang memiliki pengaruh besar pula terhadap kehidupan. Sebagai insan intelektual yang berpotensi besar untuk melakukan sebuah perubahan, mahasiswa sangat diharapkan perannya dalam melakukan perubahan tersebut.

Hal ini terbukti dengan adanya peristiwa reformasi pada tahun 1998 silam, ketika mahasiswa Indonesia turun ke jalan menuntut sebuah reformasi dari pemerintah. Ketika itu mahasiswa berhasil menggulingkan pemerintahan yang tengah menjabat saat itu.

Namun, saat ini kepekaan politik mahasiswa sudah banyak diredam dan sikap kritis mereka sudah lama dibungkam. Mereka dilenakan dengan hingar bingar duniawi. Bukan itu saja, bahkan saat ini tidak sedikit mahasiswa yang bersikap ‘apatis’ terhadap segala hal yang terjadi di dunia perpolitikan bangsanya.

Mahasiswa kini tengah kehilangan identitasnya sebagai kaum intelektual yang berperan sebagai kaum pemikir. Mahasiswa kini sudah enggan untuk memikirkan hal-hal yang menurut mereka tak terlalu berpengaruh pada kehidupan mereka. Terlebih pada dunia perpolitikan yang tidak berkaitan dengan mereka sebagai mahasiswa yang tugasnya hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas dari dosen. Menurut mereka itu sudah cukup melelahkan, sudah cukup membuat pikiran mereka terkuras.
Memang benar, mahasiswa kini sudah dijauhkan dari aktivitas-aktivitas perpolitikan. Mereka lebih banyak disuguhkan dengan tugas perkuliahan, atau dengan aktivitas-aktivitas mereka secara individualis dan hedonisme duniawi.

Padahal, Allah SWT peringatkan dalam firman-Nya :
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa mereka itu mendengar dan memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya (dari binatang ternak itu).” (TQS. Al-Furqan : 43-44)

Mahasiswa sebagai manusia yang seharusnya tunduk akan peringatan Tuhannya, kini tak lagi menggubris peringatan tersebut. Mereka sudah banyak yang melepaskan diri dari perkara-perkara kemaslahatan masyarakat, dan lebih memilih menyibukkan diri untuk urusan-urusan pribadi.

Maka tak mengherankan jika kita melihat tak ada habisnya kericuhan-kericuhan yang terjadi diberbagai ranah kehidupan bangsa ini, Terlebih untuk ranah perpolitikan yang tak berarah dan semakin kacau ini akibat dari diterapkannya sistem perpolitikan kapitalistik yang segalanya berstandar pada kepentingan dan materialistik semata.Sehingga mahasiswa pun terbentuk menjadi insan yang tak jauh beda dengan para agen kapitalis yang semasa hidupnya hanya untuk mencari materi dan enggan mengurusi perkara yang sama sekali  dirasa tidak terlalu penting dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka.

Rasulullah SAW bersabda :
“Kedua telapak kaki seorang anak Adam di Hari Kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenai 5 (lima perkara): tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya, apa yang dilakukan, tentang hartanya, darimana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan, dan tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu.” (HR. Ahmad)

Mahasiswa sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menjadi agen-agen perubahan yang memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan bermasyarakat. Hal ini tak bisa dibentuk ketika masih diterapkannya sistem pendidikan kapitalistik yang bertujuan menjadikan mahasiswa hanya sebagai mesin-mesin penghasil uang. Sistem pendidikan yang demikian sudah seharusnya disingkirkan, untuk kemudian digantikan dengan sistem pendidikan yang memiliki tujuan menjadikan manusia sesuai kehendak Tuhannya, yakni dengan sistem pendidikan islam.

Sistem pendidikan islam sebagai solusi yang paripurna memiliki pengaruh luar biasa bagi kelangsungan hidup masyarakat. Dengan diterapkannya sistem pendidikan islam yang mampu melahirkan insan intelektual yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami, akan tercipta pula lah kehidupan yang islami, kehidupan yang mensejahterakan dan menentramkan umat manusia seperti yang di cita-citakan kebanyakan masyarakat saat ini.Wallahu A’lam Bish-Shawab..