Dalam kehidupan ini untuk melakukan
dan memutuskan sesuatu manusia tidak pernah terlepas dari memandang baik dan buruknya
suatu itu dari pandangannya sendiri, segala
yang ia lakukan akan dikatakan baik ketika hal itu memberikan manfaat pada dirinya
dan akan dikatakan buruk bila merugikan dirinya sendiri. Hal itu hanya dinilai berdasarkan
pandangannya semata sebagai manusia. Dan itulah yang membuat tidak sedikit
orang enggan untuk keluar dari ‘Zona Nyaman’nya.
Begitupun yang terjadi saat ini, orang-orang
pada umumnya tau bahkan faham mengenai pentingnya penerapan Islam, faham akan
kewajibannya sebagai muslim untuk mentaati Tuhannya, menjalankan segala
perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Namun, hawa nafsu lebih
menguasai dirinya. Sehingga, tidak sedikit yang berdiam diri di zona nyaman,
padahal ia tahu bahwa dirinya salah. Dan itu pula yang akhirnya membuat
orang-orang sulit sekali “Move On” dari zona nyamannya tersebut.
Hakikatnya seorang muslim memandang
baik buruk segala sesuatu tentunya harus berdasarkan aqidahnya (read : islam),
harus berdasarkan hukum syara’. Dengan memahami hal itu tentunya ia takkan
merasa sulit untuk keluar dari zona nyaman, ia tak akan merasa berat untuk ‘hijrah’
pada kebaikan.
Seseorang yang berjilbab ketika ia
merasa jilbabnya nyaman dan friendly ia gunakan dalam beraktivitas, maka akan
ia gunakan. Namun, ketika dirinya merasa repot dan merasa jilbabnya menghalangi
aktivitas yang ia lakukan, maka ditanggalkanlah jilbabnya dan diganti dengan
sekedar baju potongan atau celana yang dianggapnya lebih simple dan mendukung
untuk aktivitasnya. Begitulah yang terjadi pada orang-orang yang memandang baik
buruk berdasarkan pandangannya semata sebagai manusia, bukan memandang baik
buruk sebagai seorang hamba. Karena, bagi yang memposisikan dirinya sebagai
seorang hamba maka ia akan menggunakan jilbabnya disetiap aktivitas.
Atau contoh lain, bagi orang yang
terjebak aktivitas pacaran. Ketika ia merasa pacaran memberikan kebahagiaan
untuk dirinya, barang tentu ia tetap saja pada aktivitas tersebut, enggan untuk
meninggalkan perbuatan tersebut, sekalipun ia tahu bahwa itu adalah perbuatan
yang dilarang dalam islam. Dan ia akan meninggalkan aktivitas pacaran ketika ia
merasa pacaran sudah merugikan dirinya, menyengsarakan dirinya karena disakiti
oleh dia yang menjadi pasangannya, akan tetapi saat ia sudah merasa baik, ia
kembali pada aktivitas yang sama seolah lupa dengan sakit hatinya. Itu karena ia
memandang baik buruk itu menurut dirinya. Berbeda dengan yang memandang baik
buruk berdasarkan hukum syara’, ia meninggalkan aktivitas pacaran bukan karena sakit
hati saja, tapi murni karena perintah Allah SWT. Dengan demikian, tidak akan
pernah ada keinginannya untuk kembali pada aktivitas haram tersebut, sekalipun
banyak godaan yang mendekatinya, karena ia sadar bahwa Allah mengharamkannya.
“…Boleh
jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula)
kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang
kamu tidak mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah : 216)
Kecenderungan manusia pada kebaikan
membuat dirinya selalu terdorong melakukan suatu kebaikan. Banyak yang ingin
berubah untuk lebih baik adalah sebuah bukti kecenderungan tersebut. Namun,
tidak sedikit manusia yang ‘malas’ enggan berjuang lebih keras untuk menuju
kebaikan yang hendak ia tuju. Sehingga membuat dirinya kalah oleh hawa nafsu
yang menguasai dirinya, kalah dengan cemoohan orang dan kalah dengan godaan
duniawi lainnya. Adakah yang menyadari hal ini? Jawabannya, “Banyak”. Akan
tetapi, lagi-lagi orang banyak yang enggan meninggalkan zona nyamannya. Takut
kehilangan kebahagiaan hingar bingar dunia, takut tidak bisa melakukan hal-hal
yang sudah menjadi hobinya. Alhasil, niat sekedar niat. Selalu mencari alasan
bahwa perubahan itu tidak bisa 100% langsung. Iya, memang. Tapi terus melakukan
secara konsisten pun dibutuhkan. Berani keluar dari zona nyaman pun harus
dilakukan. Karena perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya pergerakan.
Allah SWT berfirman :
“…Sesungguhnya
Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri...” (TQS. Ar-Ra’d : 11)
So, yang harus segera dilakukan adalah
‘keluarlah dari zona nyaman yang melenakan’. Karena bila tidak pernah melakukan
itu, kebaikan pun tidak akan pernah
mendekat. Sadarilah, bahwa dunia ini hanyalah ‘fasilitas’ ibadah, bukan sebagai
‘tujuan’. Karena, kehidupan kekal kita adalah di akhirat nanti. Amal yang
dilakukan di dunia lah yang menentukan surga atau neraka yang akan menjadi
tempat kembali kelak. Bergeraklah menuju ketaatan, lawanlah segala godaan,
sebagai bukti keimanan.
Wallahu A’lam Bish-
Shawab!

0 komentar:
Posting Komentar