Minggu, 20 Desember 2015

Zona Nyaman yang Melenakan

   Dalam kehidupan ini untuk melakukan dan memutuskan sesuatu manusia tidak pernah terlepas dari memandang baik dan buruknya suatu  itu dari pandangannya sendiri, segala yang ia lakukan akan dikatakan baik ketika hal itu memberikan manfaat pada dirinya dan akan dikatakan buruk bila merugikan dirinya sendiri. Hal itu hanya dinilai berdasarkan pandangannya semata sebagai manusia. Dan itulah yang membuat tidak sedikit orang enggan untuk keluar dari ‘Zona Nyaman’nya.
    Begitupun yang terjadi saat ini, orang-orang pada umumnya tau bahkan faham mengenai pentingnya penerapan Islam, faham akan kewajibannya sebagai muslim untuk mentaati Tuhannya, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Namun, hawa nafsu lebih menguasai dirinya. Sehingga, tidak sedikit yang berdiam diri di zona nyaman, padahal ia tahu bahwa dirinya salah. Dan itu pula yang akhirnya membuat orang-orang sulit sekali “Move On” dari zona nyamannya tersebut.
  Hakikatnya seorang muslim memandang baik buruk segala sesuatu tentunya harus berdasarkan aqidahnya (read : islam), harus berdasarkan hukum syara’. Dengan memahami hal itu tentunya ia takkan merasa sulit untuk keluar dari zona nyaman, ia tak akan merasa berat untuk ‘hijrah’ pada kebaikan.
   Seseorang yang berjilbab ketika ia merasa jilbabnya nyaman dan friendly ia gunakan dalam beraktivitas, maka akan ia gunakan. Namun, ketika dirinya merasa repot dan merasa jilbabnya menghalangi aktivitas yang ia lakukan, maka ditanggalkanlah jilbabnya dan diganti dengan sekedar baju potongan atau celana yang dianggapnya lebih simple dan mendukung untuk aktivitasnya. Begitulah yang terjadi pada orang-orang yang memandang baik buruk berdasarkan pandangannya semata sebagai manusia, bukan memandang baik buruk sebagai seorang hamba. Karena, bagi yang memposisikan dirinya sebagai seorang hamba maka ia akan menggunakan jilbabnya disetiap aktivitas.
    Atau contoh lain, bagi orang yang terjebak aktivitas pacaran. Ketika ia merasa pacaran memberikan kebahagiaan untuk dirinya, barang tentu ia tetap saja pada aktivitas tersebut, enggan untuk meninggalkan perbuatan tersebut, sekalipun ia tahu bahwa itu adalah perbuatan yang dilarang dalam islam. Dan ia akan meninggalkan aktivitas pacaran ketika ia merasa pacaran sudah merugikan dirinya, menyengsarakan dirinya karena disakiti oleh dia yang menjadi pasangannya, akan tetapi saat ia sudah merasa baik, ia kembali pada aktivitas yang sama seolah lupa dengan sakit hatinya. Itu karena ia memandang baik buruk itu menurut dirinya. Berbeda dengan yang memandang baik buruk berdasarkan hukum syara’, ia meninggalkan aktivitas pacaran bukan karena sakit hati saja, tapi murni karena perintah Allah SWT. Dengan demikian, tidak akan pernah ada keinginannya untuk kembali pada aktivitas haram tersebut, sekalipun banyak godaan yang mendekatinya, karena ia sadar bahwa Allah mengharamkannya.
   
     Demikian pula pada orang-orang yang menyatakan dirinya iri melihat temannya yang lain selalu berada dalam kebaikan, ingin seperti mereka yang senantiasa dalam ketaatan. Namun, untuk bergerak saja masih sulit dan memilah-milah mana aktivitas yang sesuai dengan zona nyamannya dan mana yang tidak sesuai dengan dirinya. Padahal, Allah SWT berfirman :
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah : 216)
    Kecenderungan manusia pada kebaikan membuat dirinya selalu terdorong melakukan suatu kebaikan. Banyak yang ingin berubah untuk lebih baik adalah sebuah bukti kecenderungan tersebut. Namun, tidak sedikit manusia yang ‘malas’ enggan berjuang lebih keras untuk menuju kebaikan yang hendak ia tuju. Sehingga membuat dirinya kalah oleh hawa nafsu yang menguasai dirinya, kalah dengan cemoohan orang dan kalah dengan godaan duniawi lainnya. Adakah yang menyadari hal ini? Jawabannya, “Banyak”. Akan tetapi, lagi-lagi orang banyak yang enggan meninggalkan zona nyamannya. Takut kehilangan kebahagiaan hingar bingar dunia, takut tidak bisa melakukan hal-hal yang sudah menjadi hobinya. Alhasil, niat sekedar niat. Selalu mencari alasan bahwa perubahan itu tidak bisa 100% langsung. Iya, memang. Tapi terus melakukan secara konsisten pun dibutuhkan. Berani keluar dari zona nyaman pun harus dilakukan. Karena perubahan tidak akan pernah terjadi tanpa adanya pergerakan.
Allah SWT berfirman :
“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri...” (TQS. Ar-Ra’d : 11)
   So, yang harus segera dilakukan adalah ‘keluarlah dari zona nyaman yang melenakan’. Karena bila tidak pernah melakukan itu,  kebaikan pun tidak akan pernah mendekat. Sadarilah, bahwa dunia ini hanyalah ‘fasilitas’ ibadah, bukan sebagai ‘tujuan’. Karena, kehidupan kekal kita adalah di akhirat nanti. Amal yang dilakukan di dunia lah yang menentukan surga atau neraka yang akan menjadi tempat kembali kelak. Bergeraklah menuju ketaatan, lawanlah segala godaan, sebagai bukti keimanan.
Wallahu A’lam Bish- Shawab!