#re-post | sebelumnya Februari lalu tulisan ini sudah dimuat di media online islampos.com pada kolom mahasiswa, tapi kini saya akan mempublikasi ulang di blog pribadi saya ini. Sekaligus untuk dokumentasi pribadi. | Semoga bermanfaat.
===============================================================
Suatu perubahan yang dihasilkan dari potensi intelektual yang tinggi akan menciptakan sebuah perubahan besar yang memiliki pengaruh besar pula terhadap kehidupan. Sebagai insan intelektual yang berpotensi besar untuk melakukan sebuah perubahan, mahasiswa sangat diharapkan perannya dalam melakukan perubahan tersebut.
Hal ini terbukti dengan adanya peristiwa reformasi pada tahun 1998 silam, ketika mahasiswa Indonesia turun ke jalan menuntut sebuah reformasi dari pemerintah. Ketika itu mahasiswa berhasil menggulingkan pemerintahan yang tengah menjabat saat itu.
Namun, saat ini kepekaan politik mahasiswa sudah banyak diredam dan sikap kritis mereka sudah lama dibungkam. Mereka dilenakan dengan hingar bingar duniawi. Bukan itu saja, bahkan saat ini tidak sedikit mahasiswa yang bersikap ‘apatis’ terhadap segala hal yang terjadi di dunia perpolitikan bangsanya.
Mahasiswa kini tengah kehilangan identitasnya sebagai kaum intelektual yang berperan sebagai kaum pemikir. Mahasiswa kini sudah enggan untuk memikirkan hal-hal yang menurut mereka tak terlalu berpengaruh pada kehidupan mereka. Terlebih pada dunia perpolitikan yang tidak berkaitan dengan mereka sebagai mahasiswa yang tugasnya hanya mengikuti perkuliahan dan mengerjakan tugas dari dosen. Menurut mereka itu sudah cukup melelahkan, sudah cukup membuat pikiran mereka terkuras.
Memang benar, mahasiswa kini sudah dijauhkan dari aktivitas-aktivitas perpolitikan. Mereka lebih banyak disuguhkan dengan tugas perkuliahan, atau dengan aktivitas-aktivitas mereka secara individualis dan hedonisme duniawi.
Padahal, Allah SWT peringatkan dalam firman-Nya :
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa mereka itu mendengar dan memahami? Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi jalannya (dari binatang ternak itu).” (TQS. Al-Furqan : 43-44)
Mahasiswa sebagai manusia yang seharusnya tunduk akan peringatan Tuhannya, kini tak lagi menggubris peringatan tersebut. Mereka sudah banyak yang melepaskan diri dari perkara-perkara kemaslahatan masyarakat, dan lebih memilih menyibukkan diri untuk urusan-urusan pribadi.
Maka tak mengherankan jika kita melihat tak ada habisnya kericuhan-kericuhan yang terjadi diberbagai ranah kehidupan bangsa ini, Terlebih untuk ranah perpolitikan yang tak berarah dan semakin kacau ini akibat dari diterapkannya sistem perpolitikan kapitalistik yang segalanya berstandar pada kepentingan dan materialistik semata.Sehingga mahasiswa pun terbentuk menjadi insan yang tak jauh beda dengan para agen kapitalis yang semasa hidupnya hanya untuk mencari materi dan enggan mengurusi perkara yang sama sekali dirasa tidak terlalu penting dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka.
Rasulullah SAW bersabda :
“Kedua telapak kaki seorang anak Adam di Hari Kiamat masih belum beranjak sebelum ditanya kepadanya mengenai 5 (lima perkara): tentang umurnya, untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya, apa yang dilakukan, tentang hartanya, darimana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan, dan tentang ilmunya, apa yang dia kerjakan dengan ilmunya itu.” (HR. Ahmad)
Mahasiswa sebagai kaum intelektual seharusnya mampu menjadi agen-agen perubahan yang memberikan kontribusi besar terhadap kehidupan bermasyarakat. Hal ini tak bisa dibentuk ketika masih diterapkannya sistem pendidikan kapitalistik yang bertujuan menjadikan mahasiswa hanya sebagai mesin-mesin penghasil uang. Sistem pendidikan yang demikian sudah seharusnya disingkirkan, untuk kemudian digantikan dengan sistem pendidikan yang memiliki tujuan menjadikan manusia sesuai kehendak Tuhannya, yakni dengan sistem pendidikan islam.
Sistem pendidikan islam sebagai solusi yang paripurna memiliki pengaruh luar biasa bagi kelangsungan hidup masyarakat. Dengan diterapkannya sistem pendidikan islam yang mampu melahirkan insan intelektual yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang islami, akan tercipta pula lah kehidupan yang islami, kehidupan yang mensejahterakan dan menentramkan umat manusia seperti yang di cita-citakan kebanyakan masyarakat saat ini.Wallahu A’lam Bish-Shawab..

0 komentar:
Posting Komentar