re-post~
Tulisan ini merupakan tulisan pertama saya di 2016 yang dimuat dibeberapa media online seperti visimuslim, islampos, dakwahmedia, dan media terkait lainnya Januari lalu. Saya posting kembali di blog pribadi saya sebagai dokumentasi pribadi. Semoga bermanfaat. :)
Menjadi seorang Ibu merupakan amanah
mulia yang disandangkan pada pundak perempuan. Sebagai sosok orang tua,
tentunya ibu menginginkan anak-anaknya terlahir dan tumbuh menjadi generasi
yang dapat membanggakan orang tuanya. Islam sebagai agama yang sempurna sangat
menjunjung tinggi kemuliaan perempuan. Islam menetapkan dua peran penting bagi
perempuan, yakni sebagai ibu dan pengelola rumah. Ibu merupakan pendidik
pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu sebagai pencetak generasi unggul
hendaknya senantiasa menjadi sekolah dan pendidik terbaik bagi anak-anaknya.
Namun saat ini, para ibu lebih disibukkan dengan pekerjaan-pekerjaan mereka
diluar rumah demi memenuhi materi.
Menurut Biro Pusat Statistik (BPS)
dan hasil survey yang dilakukan Departemen Tenaga Kerja menyatakan 57% pekerja
perempuan dipekerjakan di sektor informal. Berdasarkan data yang sama dari BPS
dan Sakernas, penghasilan rata-rata perempuan bekerja di sektor di luar
agrikultur, hanya sekitar 80% dari
penghasilan pria. (ilo.org, 12/12/2015)
Hal demikian didukung dengan
penerapan sistem yang salah, menjadikan perempuan yang berada dalam sistem
demokrasi kapitalisme saat ini lebih terkondisikan untuk lebih banyak berada di
ranah publik dibandingkan sibuk di dalam rumah mengurusi anak-anaknya. Sehingga
tidak sedikit anak-anak yang menjadi korban, mereka tidak terdidik dengan baik,
moral mereka jauh dari karakter akhlaqul karimah karena miskinnya bimbingan
keluarga, terutama ibu sebagai peletak dasar jiwa kepemimpinan pada anak akibat
dari ibu yang lebih sibuk diluar rumah.
Sebanyak 46% remaja berusia 15-19
tahun disinyalir sudah pernah berhubungan seksual, bahkan data Sensus Nasional
menunjukkan bahwa 48-51 persen perempuan hamil (akibat seks bebas) adalah
remaja (bkkbn.go.id, 12/12/2015). Dan dari sumber lain dinyatakan lebih dari
500 video porno sudah dibuat dan diedarkan di Indonesia dan sebanyak 90%
pembuat video porno itu berasal dari kalangan anak muda, dari SMP sampai
mahasiswa. Selanjutnya, dalam kasus NAPZA, 20% dari 4 juta pengguna narkoba di
seluruh Indonesia adalah remaja. Dari penelitian
yang pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan bahwa 50 – 60
persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.
Jadi total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN
dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. Di antara jumlah itu, 48% di
antaranya adalah pecandu dan sisanya sekadar coba-coba dan pemakai (radioaustralia.net
12/12/2015).
Mendidik anak tidak dapat dilakukan
paruh waktu atau sambilan semata. Hal itu membutuhkan curahan waktu, pikiran,
tenaga, usaha keras dan kondisi yang menunjang. Ibnul Qayyim mengatakan : “Sebagian
ulama menyatakan bahwa Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban setiap orang
tua tentang anaknya di hari kiamat, sebelum si anak sendiri juga akan meminta
pertanggung jawaban orang tuanya. Siapa saja yang mengabaikan pengajaran pada
anaknya mengenai hal-hal yang berguna baginya, lalu membiarkan begitu saja maka
ia telah berbuat kesalahan besar” (Kebaikan yang berguna bagi anak yang
dimaksud adalah mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah agama).
Dengan demikian, orang tua terutama
ibu sudah seharusnya memfokuskan diri pada fungsi utamanya, yakni sebagai ibu
dan pengatur rumah. Karena tugas mulia tersebut merupakan pondasi utama demi
terbentuknya generasi yang unggul, yang akan memimpin peradaban manusia ke arah
yang lebih baik. Hal ini membutuhkan adanya dukungan sistem yang mengkondisikan
perempuan untuk memenuhi kewajibannya tersebut, yakni islam. Karena islam sangat menjunjung tinggi
kehormatan perempuan, dan hanya sistem islam yang mampu mendukung perempuan
untuk menjalankan fungsinya sebagai ummu wa robbatul bayt. Sehingga,
tidak ada lagi solusi lain selain diterapkannya islam dalam bingkai khilafah,
yang dengannya akan terbentuk pula lah generasi mulia yang unggul untuk
kebaikan di dunia maupun akhirat.
Wallahu
a’lam bish-shawab.

0 komentar:
Posting Komentar